Bertahan Dalam Iman Zaman Ini

Oleh: Dwi Taufan Hidayat

ZAMAN ini terasa semakin sempit bagi yang lemah. Yang kecil sering ditindas, yang besar semakin berkuasa tanpa malu. Ketika amanah berubah menjadi alat memperkaya diri, kepercayaan pun kian pudar. Namun Rasulullah ๏ทบ telah memberi tuntunan: sabar, istiqamah, dan jangan biarkan hati rusak oleh ketidakadilan.

Dunia kini tak lagi terasa lapang bagi sebagian orang. Yang bersuara kebenaran dibungkam, yang mempertanyakan keadilan dilabeli pembangkang. Ketika yang lemah dipojokkan, dan yang kuat merajalela tanpa rem, rasa sesak itu nyata. Tapi Islam tidak pernah membiarkan umatnya larut dalam nestapa. Ia datang sebagai cahaya penuntun, bahkan dalam gelap yang pekat sekalipun.

Rasulullah ๏ทบ, jauh sebelum kita lahir, sudah memberi isyarat tentang kondisi seperti hari ini. Beliau bersabda:

ยซุฅูู†ู‘ูŽูƒูู…ู’ ุณูŽุชูŽุฑูŽูˆู’ู†ูŽ ุจูŽุนู’ุฏููŠ ุฃูŽุซูŽุฑูŽุฉู‹ุŒ ููŽุงุตู’ุจูุฑููˆุง ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ุชูŽู„ู’ู‚ูŽูˆู’ู†ููŠ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุญูŽูˆู’ุถูยป
“Kalian akan melihat setelahku nanti banyak atsarah (penguasa yang mementingkan diri sendiri). Maka bersabarlah hingga kalian bertemu aku di telaga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa atsarah adalah bentuk kedzaliman para pemimpin terhadap rakyat, dengan menyalahgunakan kekuasaan dan mengambil hak yang bukan miliknya. Mereka menggunakan harta negara seolah milik pribadi, bukan untuk menyejahterakan umat, melainkan untuk memperkaya diri dan lingkar kekuasaannya.

Bukan hal baru. Tapi sakitnya tetap terasa. Kita, rakyat biasa, menyaksikan kebenaran dibelokkan, keadilan dikaburkan, dan amanah dipermainkan. Tak sedikit dari kita yang kecewa. Marah. Lelah. Bertanya, โ€œDi mana keadilan itu kini?โ€

Namun lihatlah bagaimana Rasulullah ๏ทบ membimbing hati kita. Beliau tidak menyuruh umatnya untuk memerangi penguasa secara gegabah. Beliau tahu, gejolak tanpa tuntunan akan melahirkan fitnah yang lebih besar. Maka solusinya: sabar.

Tapi sabar yang dimaksud bukan diam membisu tanpa sikap. Bukan pasrah yang menjatuhkan harga diri. Sabar adalah tetap berjalan lurus di jalan iman, meski seluruh dunia mendorong kita untuk menyerah atau ikut menyimpang.

Allah ๏ทป menegaskan dalam Al-Qurโ€™an:

ูˆูŽุงุตู’ุจูุฑู’ ูˆูŽู…ูŽุง ุตูŽุจู’ุฑููƒูŽ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุจูุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู
“Dan bersabarlah, dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (QS. An-Nahl: 127)

Sabar bukan perkara kecil. Ia butuh kekuatan besar: kekuatan jiwa, akal, dan iman. Sabar adalah bentuk jihad paling panjang. Menahan diri agar tidak ikut tenggelam dalam kemungkaran, tidak ikut rusak oleh ketidakadilan, tidak terpancing membalas dzalim dengan kedzaliman.

Zaman ini memang terasa berat. Tapi justru karena beratnya itulah, nilai kebaikan menjadi tinggi di sisi Allah. Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ยซุงู„ู’ุนูุจูŽุงุฏูŽุฉู ูููŠ ุงู„ู’ู‡ูŽุฑู’ุฌู ูƒูŽู‡ูุฌู’ุฑูŽุฉู ุฅูู„ูŽูŠู‘ูŽยป
“Beribadah di masa kekacauan (fitnah) seperti berhijrah kepadaku.” (HR. Muslim)

Menjaga hati tetap bening, menjaga lisan dari sumpah serapah, menjaga tangan dari kekerasan, menjaga iman dari kelunturan itu semua bagian dari ibadah yang agung di hadapan Allah. Dan hanya mereka yang teguh bertahan yang akan sampai di telaga Rasulullah ๏ทบ kelak.

Kita tidak dituntut untuk menyelesaikan semua kerusakan dunia. Tapi kita dituntut untuk tidak ikut menjadi bagian dari kerusakan itu. Kita tidak harus menjadi pemimpin untuk berlaku adil. Tapi kita semua bertanggung jawab atas keadilan dalam diri sendiri, keluarga, dan lingkungan kita.

Rasulullah ๏ทบ bersabda:

ยซู…ูŽู†ู’ ุฑูŽุฃูŽู‰ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู’ ู…ูู†ู’ูƒูŽุฑู‹ุง ููŽู„ู’ูŠูุบูŽูŠูู‘ุฑู’ู‡ู ุจููŠูŽุฏูู‡ูุŒ ููŽุฅูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽุทูุนู’ ููŽุจูู„ูุณูŽุงู†ูู‡ูุŒ ููŽุฅูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽุทูุนู’ ููŽุจูู‚ูŽู„ู’ุจูู‡ูุŒ ูˆูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽุถู’ุนูŽูู ุงู„ู’ุฅููŠู…ูŽุงู†ูยป
“Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Jadi jangan remehkan rasa muakmu terhadap ketidakadilan, selama itu menjelma doa. Jangan remehkan air matamu yang jatuh dalam sujud, karena bisa jadi di sanalah lahir keberanian sejati. Jangan remehkan keteguhanmu untuk tidak ikut menipu meski semua orang menormalisasi kebohongan.

Mereka yang mempertahankan iman di zaman ini, bukan sekadar menjalankan ibadah biasa. Tapi mereka sedang menggenggam bara api. Seperti sabda Nabi ๏ทบ:

ยซูŠูŽุฃู’ุชููŠ ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุณู ุฒูŽู…ูŽุงู†ูŒ ุงู„ุตูŽู‘ุงุจูุฑู ูููŠู‡ู ุนูŽู„ูŽู‰ ุฏููŠู†ูู‡ู ูƒูŽุงู„ู’ู‚ูŽุงุจูุถู ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ุฌูŽู…ู’ุฑูยป
“Akan datang pada manusia suatu zaman, di mana orang yang bersabar memegang agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi)

Satu genggaman itu panas. Melelahkan. Tapi siapa yang mampu bertahan, dialah yang Allah muliakan. Bukan karena hasilnya, tapi karena istiqamahnya.

Di tengah dunia yang makin gelap, kita tidak harus menjadi cahaya untuk semua. Cukup pastikan bahwa diri kita tidak ikut menambah gelap. Kita menjadi titik-titik cahaya kecil: dalam rumah, dalam komunitas, dalam pergaulan, dalam profesi.

Kita hidup di zaman yang penuh keguncangan, tapi ingatlah: tak satu pun dari semua ini luput dari pandangan Allah. Dia Maha Tahu siapa yang berlaku curang, dan siapa yang tetap jujur dalam keterbatasan.

Allah ๏ทป berfirman:

ูˆูŽู„ูŽุง ุชูŽุญู’ุณูŽุจูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุบูŽุงููู„ู‹ุง ุนูŽู…ู‘ูŽุง ูŠูŽุนู’ู…ูŽู„ู ุงู„ุธู‘ูŽุงู„ูู…ููˆู†ูŽ
“Dan janganlah engkau mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim.” (QS. Ibrahim: 42)

Mereka boleh bersandiwara di atas panggung dunia. Tapi semua akan dibuka di hadapan Allah. Dan di saat itu, yang lemah tapi jujur, yang sederhana tapi sabar, akan lebih mulia dari mereka yang besar tapi zalim.

Maka bertahanlah dalam iman, walau badai belum reda. Jangan berhenti berharap, walau jalan terasa panjang. Terus berdoa, terus berbuat baik, terus melawan kezaliman dengan akhlak, bukan dengan kebencian. Karena bila kita sabar dan istiqamah, kelak kita akan bertemu Rasulullah ๏ทบ di telaganya. Dan itu, adalah kemenangan sejati.

Sponsored
Mau punya website berita sendiri?
Sejak 2018, Ar Media Kreatif telah membangun ratusan media online di seluruh Indonesia.
Kunjungi sekarang โ†’