banner 728x90
Berita  

Belajar Multikulturalisme ala Pendiri Pondok Modern Gontor KH. Imam Zarkasyi

Jakarta (MitraKepolisian) – Sosok dan ketokohan KH. Imam Zarkasyi sangat lekat dengan Lembaga Pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor yang ia gagas.

KH. Imam Zarkasyi menjadi sangat istimewa karena membawa model pendidikan Islam yang banyak dipakai dan berlaku di beberapa negara Islam, kemudian diterapkan di Indonesia sebagai wujud dari Pendidikan yang ‘berwajah’ modern, visioner dan berbasis keilmuan Islam.

“Cara kita melihat ketokohan seseorang itu dari visi pendidikannya,” ujar Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, KH. Helmy Hidayat pada talk show Inspirasi Ramadan bertajuk keteladanan KH. Imam Zarkasyi, tayang melalui akun BKN PDI Perjuangan pada, sabtu pagi (23/4/2022)

KH. Helmy, sebagai alumni Pondok Moderen Darussalam gontor itu menjelaskan, bahwa sosok KH. Imam Zarkasyi merupakan seorang tokoh dengan wawasan luas dan cara pandang yang terbuka.

KH. Imam Zarkasyi menginginkan pesantren yang didirikannya itu sebagai pesantren yang mengajarkan multikulturalisme, sebagai representasi dari potret Indonesia dengan keragaman nilai tradisi dan budaya.

“Dengan visi tajamnya mau mengatakan, bahwa inilah gontor yang mengajarkan multi kulturalisme, yang percaya Islam harus dianut siswanya dan menghormati agama lain yang ada di luar sana”, jelas KH. Helmy.

Lebih lanjut KH. Helmy mencontohkan dalam pergaulan sehari-hari antar sesama santri. Jika siswa/santri berasal dari Jakarta, maka jangan bergaul hanya dengan sesama Jakarta saja, tapi bergaul lah dengan satri yang berasal dari wilayah lain seperti Kalimantan, NTT, dan Sulawesi. Tujuannya agar sesama siswa/santri saling paham betul terkait perbedaan tradisi dan budaya Indonesia.

“Kamu dari jakarta bergaul lah dengan orang kalimantan, orang NTT. Jadi sebetulnya sejak kecil sekali kami di tanamkan bibit cinta yang multikulturalis,” jelas KH. Helmy.

KH. Helmy kemudian menjelaskan, bahwa para tokoh pendiri Gontor memahami betul watak pendidikan berkemajuan yang dapat disesuaikan dengan tradisi pesantren, yang memang telah begitu lama hidup di Nusantara. Dengan tekad untuk menjadi sebuah lembaga pendidikan berkualitas, Pondok Modern Darussalam Gontor bercermin pada lembaga-lembaga pendidikan internasional terkemuka.

Lebih lanjut lagi, KH. Helmy Hidayat menyebut ada empat lembaga Pendidikan terkenal di Dunia yang menjadi sintesa, dan konsepnya di adopsi oleh Pondok Modern Gontor. Tujuannya agar dapat menyebarkan dan mengembangkan sistem pendidikan modern di tengah umat Islam.

“Gontor dibangun dengan empat misi; sistem wakaf, aligarh, syanggit dan santiniketan”, jelas KH. Helmy.

Pertama, mengambil sistem wakaf dari Universitas Al-Azhar Cairo, dengan tujuan agar pesantren mampu mengutus para santri ke seluruh penjuru dunia, dan memberikan beasiswa bagi ribuan pelajar dari berbagai belahan dunia.

“Mengambil sistem wakaf dari Al-Azhar yang sudah ribuan tahun dan banyak memberikan beasiswa”, jelas KH. Helmy.

Kedua, sistem Aligarh dari India, yang memiliki perhatian sangat besar terhadap perbaikan sistem pendidikan dan pengajaran, “Sistem aligarh dari india, gontor mengambil inovasi pendidikannya, karena itulah yang membuat gontor agak berbeda” lanjut KH. Helmy.

Ketiga, Syanggit dari Mauritania, yaitu ajaran yang dihiasi kedermawanan dan keihlasan para pengasuhnya. “Syanggit di Mauritania, dari situ kita belajar kedermawanan para pengasuhnya. Oleh karena itu guru-guru tidak di gaji, tapi mereka di kasih kesempatan untuk berbisnis” jelas KH. Helmy.

Terakhir, Santiniketan, dengan segenap kesederhanaan, ketenangan dan kedamaiannya dalam kegiatan belajar mengajar. “Santiniketan, sebuah lembaga pendidikan yang damai, sejuk dan banyak pohon, makanya gontor di pilih di bawah gunung Wilis”, pungkas jelas KH. Helmy.

banner 728x90