banner 728x90

Satu Abad NU Menebar Kasih Sayang Semesta

Judul ini saya ambil dari lirik Mars Nahdatul Ulama (NU) yang bait terakhirnya saya kutip selengkapnya seperti berikut:

Menebar kasih-sayang semesta
Membangun peradaban baru yang mulia
Tuk kedamaian dan bahagia bersama
Dalam ridha Allah Tuhan Yang Maha Esa


Bait atau larik ini terasa menarik. Sebagai seorang pemeluk agama Katholik, jujur saya akui bahwa saya tidak memiliki referensi yang cukup paripurna tentang Nahdatul Ulama (NU).

Walau senyatanya, NU adalah sebuah organisasi keagamaan terbesar dan tertua di Indonesia, yang telah begitu lama menenun kebhinekaan Indonesia dalam mozaik nasionalisme bercorak keberagaman.

Tetapi harus saya akui pula bahwa sebagai bagian elemen social yang sering disebut sebagai minoritas, secara intuitif saya benar merasakan bahwa NU telah memperteguh kepercayaan saya pada nasionalisme, kebersamaan, pada toleransi, kegotong-rotongan dan sikap saling menghargai.

Bersama NU, kata-kata tersebut menjadi nyata, bertenaga dan hidup dalam berperilaku dan dalam pergaulan social.

Oleh karena itu kata-kata yang terkandung dalam bait terakhir Mars NU ini menjadi penting dan berarti, bukan karena rangkaian kata ini indah untuk dilagukan tetapi karena rangkaian kata tersebut adalah komitmen luhur sekaligus butir-butir perjuangan yang terus mewujud. Bait ini bagi saya adalah tekad yang menguatkan keyakinan sekaligus kiblat yang memberi orientasi.

Ada banyak hal yang dapat direfleksi dari rangkaian kata-kata ini. Pertama tentu saja visi kemanusiaan. Jika visi kemanusiaan yang beradab menjadi fondasi kehidupan majemuk kita sebagai satu bangsa, praktik-praktik destruktif yang menabrak batas-batas moral dan hukum pasti dapat diminimalisasi.

Visi kemanusiaan yang beradab akan menyuburkan solidaritas, toleransi, dan harmoni sosial dalam masyarakat. Dengan itu, kehidupan beragama kita akan jauh lebih konstruktif.

Visi kemanusiaan mengarahkan implementasi sila ketuhanan yang memberi aksentuasi pada religiositas yang beradab, konstruktif, dan inklusif.

Tak hanya itu, visi kemanusiaan juga menjadi kategori moral-etis yang mendasari nasionalisme, demokrasi, dan keadilan sosial. Maka, penguatan aspek kemanusiaan mestinya menjadi prioritas, baik dalam berketuhanan (beragama), bernegara, berdemokrasi, maupun dalam mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat ( Adji Suradji, Kompas, 12 Desember 2021).

Di atas basis kemanusiaan yang kuat, NU sebagai organisasi keagamaan yang nasionalis mengajak segenap masyarakat bangsa ini untuk betul-betul menghidupi kata-kata yang diucapkan Bung Karno dalam pidatonya pada Kongres Manila, 29 Januari 1951.

”Belief in the Divine Omnipotence forms the essence of our culture, expressing itself in mutual respect and tolerance and in an elevated code of honour.”

Inilah ungkapan ketuhanan dan kemanusiaan yang beradab dalam arti yang sejati. Kita mesti bergerak ke arah itu, terutama dalam praksis iman-keagamaan sehari-hari.

Perjalanan sejarah NU dalam satu abad berlalu, dan tekad menjemput abad kedua dalam semangat nasional-religius tentu saja akan membentangkan lebih banyak lagi nyanyian kemanusiaan yang ditenun dalam kasih sayang, dalam semangat berkorban yang terus bernyala, dalam persaudaraan yang semakin mengkristal.

Heterofobia dan Tantangan Kemanusiaan

Sebagai organisasi keagamaan terbesar, NU tentu saja ditempa dengan beragam persoalan, entah menyangkut keagamaan, kemanusiaan ataupun kenegaraan. Karena banyak dan beragamnya persoalan, tulisan singkat ini tidak menyentuh samudra permasalahan yang begitu luas.

Yang hendak kami singgung di sini hanyalah sekelumit persoalan yang terus mengemuka dalam intensitas yang tinggi, yang kita hadapi bersama sebagai sebuah bangsa.

Ada beberapa hal yang patut diteropong sebagai persoalan bersama dalam kehidupan berbangsa, yang tentu saja menjadi pergulatan NU dalam menjemput abad kedua dalam sejarah perjuangannya.

Salah satu gejala yang dapat diamati dalam hubungan antarumat beragama adalah interaksi dan interelasi yang canggung. Ada rasa tidak-saling percaya, ada rasa saling curiga. Kenyataan ini tentu saja menguras pikiran dan tenaga dalam upaya merajut kasih-sayang.

Sebagai fenomena social yang cenderung meluas, hubungan yang canggung ini kita sebut sebagai heterofobia atau ketakutan terhadap yang lain.

Budi Hardiman (2010) mengatakan, sebenarnya sumber heterofobia adalah otofobia. Karena ada rasa takut dalam diri, orang mengonstruksi yang lain sebagai sumber ketakutan. Otofobia menjadi penyebab terdegradasinya kemerdekaan beragama karena kebebasan terpenjara dalam kecongkakan social.

Peran yang hendak diemban oleh NU dalam konteks ini adalah membebaskan agama-agama untuk tidak hidup dalam kecemasan narsistis karena terobsesi kepada usaha mengalahkan yang lain.

Diperlukan teologi agama-agama yang lebih inklusif untuk menumbuhkan sikap dan perilaku yang dewasa. Orang yang dewasa beragama adalah penyulut harapan dan bukan menjadi horor yang menakutkan dan memangkas semangat hidup (JB Kleden, Kompas 22 September 2022).

Semangat untuk membumikan Islam Nusantara dapat diamini dalam konteks pergulatan ini. Bahwa agama hendaknya tumbuh di atas kerangka budaya sehingga keduanya dapat saling bersinergis dalam pemuliaan martabat manusia.

Kita cermati juga bahwa agama dan kejahatan/kekerasan seolah terhubung secara simbiosis.

Untuk mencerna agama di Indonesia, kita bisa saja kesulitan untuk mulai dari mana. Hal ini terjadi karena agama selalu hadir dengan dua wajah biner yang saling bertolak belakang.

Agama seringkali hadir dengan wajah yang kasar dan beringas yang sangat provokatif dan berpotensi menghancurkan keadaban bersama. Agama dan kekerasan membentuk senyawa lain yang menakutkan.

Fenomena ini menjadi persoalan kemanusiaan yang serius. Tantangan kemanusiaan demikian adalah juga tantangan NU. Kaum Nahdliyin yang bergerak maju dengan semangat menebarkan kasih sayang semesta akan menghadapi benturan keras pada perilaku anti-kemanusiaan bertopeng agama.

Kejahatan demikian terjadi bukan disebabkan oleh labirin gelap di relung terdalam bernama ketidaksadaran (the unconscious) tetapi dikobarkan oleh semangat puritanisme yang kebablasan.

Kontestasi NU dengan gerakan purifikasi Islam terlihat dalam awal-awal kesejarahannya. Benturan antar-Islam puritan dan tradisi menjadi tidak terelakkan.

Benturan semangat purifikasi dan menjaga tradisi pada bagian lain mengisahkan episode lahirnya Pancasila yang menjadi salah satu milestone NU dalam perumusan konstitusi negara pada 1945.

Pada bagian lain, perkembangan agama diotandai pula dengan praktik politisasi dan komodifikasi agama yang memanfaatkan nama atau symbol agama untuk kepentingan politik dan bisnis.

Sebagaimana digambarkan secara cukup rinci oleh Adjie Suradji, (Kompas, 12 Desember 2021) bahwa komodifikasi dan politisasi Islam berdampak nyata, yaitu semakin mengaburnya nilai kereligiusan Islam itu sendiri sehingga sulit membedakan identitas Islam sebagai media spiritual (agama), senjata politik atau perangkat komersial, seperti yang terlihat pada bisnis pendidikan (sekolah/universitas), agen perjalanan (naik haji atau umrah), hingga bidang properti dan ritel.

Dari perspektif spiritual, politisasi dan komodifikasi agama juga membuat Islam terjebak dalam kerangka formalitas simbolis yang hanya mengedepankan kamuflase dan pencitraan semata.

Para petualang politik dan pelaku bisnis sangat jeli melihat peluang segmentasi pasar lewat memanfaatkan simbol-simbol agama (Islam) untuk kepentingan electoral vote ataupun mencari keuntungan bisnis. Islamic consumption trend, yang tumbuh sejak era 1990-an, realitasnya telah menjadi kekuatan (politik dan bisnis) sangat signifikan di Indonesia.

Semua ini berimbas pada perjuangan NU menegakkan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Dari dimensi keagamaan, perlu perjuangan keras untuk membersihkan stigma negative yang sering mengaitkan Islam dengan terror dan kekerasan.

Pada dimensi ekonomi ada arus komodifikasi yang menggunakan symbol agama untuk kepentingan komersial.

Begitu juga dalam dimensi politik NU akan menghadapi gelombang persoalan seputar politik identitas, ketidak-adilan social, korupsi, penegakan hukum yang lemah dan seterusnya. Bagaimana NU semestinya merespons lautan masalah ini dalam perjalanannya ke depan?

Menjemput Abad Kedua

Republik Indonesia yang baru berdiri tidak pernah luput dari pengawalan NU di setiap fase-fase pentingnya. NU terlibat aktif menjadi solusi dari mengerasnya ekstremisme kanan ataupun kiri yang berlangsung di republik yang masih muda belia ini.

Pengalaman nyata disertai kepedulian dan keterlibatan NU secara aktif dalam pergulatan berbagai masalah nasional, memberi harapan bahwa menjemput Abad Kedua dalam kisah perjalanan sejarah NU adalah tantangan yang menggemaskan.

NU memiliki banyak jurus jitu untuk menggumuli berbagai hal dalam perjuangan memuliakan kemanusiaan,
Dalam upaya membangun kedewasaan beragama, NU sudah menyiapkan konsep agama resurektif. Agama yang dihayati dalam semangat resurektif menjadi sumber inspirasi umatnya untuk memperjuangkan kualitas hidup manusia dan alam.

Kesadaran ini membuat kaum Nahdliyyin lebih terbuka untuk berdialog dan bekerja sama dengan agama dan pandangan hidup lain, tanpa takut kehilangan jati dirinya. Dialog dan kerja sama seperti ini menjadi sebuah inter-hope-dialogue, dialog antar dan mengenai harapan.

Orang yang dewasa beragama adalah penyulut harapan dan bukan menjadi horor yang menakutkan dan memangkas semangat hidup.

Wolfgang Boeckenfoerde, seorang ahli ilmu tata negara Jerman, mengatakan, negara demokratis tidak hidup dari syarat-syarat yang diciptakannya sendiri.

Negara demokratis memerlukan warga negara yang memiliki sikap hormat terhadap warganya, kesediaan berkorban dan bertanggung jawab, solidaritas dan ketaatan terhadap apa yang disepakati bersama. Inilah harapan yang terus mewujud dalam sejarah perjuangan NU.

Juergen Habermas dalam diskusinya dengan Joseph Ratzinger menyebut pembentukan sikap ini sebagai peran dari elemen prapolitik (Paul Budi Kleden dan Adrian Sunarko, eds (2010)). Agama termasuk elemen prapolitik yang penting dalam pembentukan sikap-sikap tersebut.

Prapolitik di sini tidak dalam kategoris historis, tetapi sebagai syarat yang harus selalu ada karena tetap diperlukan. JB Kleden, Kompas, 5 September 2022.

Khittah NU pada 1984 adalah cermin kedaulatan nalar dan sikap NU dalam menjaga kesucian agama dan kemaslahatan bermasyarakat bangsa, yang menjadi tugasnya.

Gus Dur telah mempraktikkannya, walau NU harus hidup dalam tekanan dan ketidaknyamanan. Itu tidak mengurangi keteguhan sikap NU. Kokoh pada prinsip, walau dengan taktis merespons setiap dinamika yang terjadi untuk bertahan.

Tidak hanya bertahan, bahkan NU mendapat simpati luas dari internal komunitas pesantren. Juga, dari eksternal kalangan nasionalis, reformis, dan modernis atas konsistensinya bersikap kritis terhadap kondisi serta mandiri. KH Abdussalam Shohib Bisri, Kompas, 29 Januari 2023).

Mencermati catatan kritis KH. Abdussalam Shohib Bisri, ada beberapa fator kunci yang menjadikan NU sebagai organisasi kaum Nahdliyyin tetap tangguh dalam menghadapi perubahan.

Pertama, NU memiliki barisan para penggerak tangguh (tidak sekedar pelaksana organisasi); dengan ilmu dan keteladan mereka menunjukkan perhatian dan kesungguhan berkhidmat kepada Nahdliyyin dan masyarakat.

Dengan demikian, tumbuh simpati masyarakat untuk bergabung dan berpartisipasi dalam menjaga dan mengembangkan kedaulatan agama dan jati diri kemasyarakatan bangsa.

Kedua, NU secara jamiyyah meningkatkan pelayanan kepada Nahdliyyin dan masyarakat demi kemaslahatan serta kebaikan hidup mereka di dunia dan akhirat.

Model pelayanan di segala bidang dan sektor yang bisa menghantarkan mereka menjadi khoiro ummah, umat terbaik nan mulia dengan kesejahteraan dan kemakmuran lahir batin. Inilah yang selalu dipegang ulama-kiai. Kedaulatan nalar dan sikap, dalam menjaga kesucian agama dan kemaslahan sosial (rakyat dan bangsa).

Nasionalisme & Kasih Sayang Semesta

Ketangguhan ulama-kiai menghadapi kondisi dengan nalar dan kesadaran kritisnya dalam sejarah perjalanan NU adalah sebuah tantangan yang dirasakan cukup menonjol.

Tahun 1938 terjadi gesekan di dalam tubuh NU, antara kalangan tua dan muda. Sepanjang Orde Baru pun terjadi benturan kepentingan, konflik dari dalam dan luar NU.

Bahkan, pascareformasi, di samping harus menghadapi kekuatan dominan yang memanfaatkan transisi pemerintahan demi pragmatisme, juga harus menyelesaikan konsolidasi internal NU, yang terpolarisasi dan terurai oleh paparan pragmatisme eksternal, hingga menjadi wabah pragmatisme yang meluas dan akut.

Namun, para ulama-kiai NU tetap kokoh dan tangguh menghadapinya. Tidak lain karena NU memiliki sistem kesadaran dan fikrah sendiri dengan nalar kritis.

Tidak mudah luntur oleh paparan kepentingan sesaat. Apalagi rapuh terbuai pragmatisme yang memabukkan. Ulama-kiai NU tetap bisa lebih percaya diri. Akhirnya, dihormati harkat-martabatnya.

Karena konsisten berpegang pada kesadaran ilmu dan keyakinan atas Islam Aswaja an-Nahdliyyah serta nalar kritis yang dikembangkan secara konstekstual.

Bagi mereka, dunia beserta dinamika bermasyarakat-bangsa, beragama, dan berorganisasi (berjamiyyah NU), baik terkait kekuasaan, jabatan, keuntungan, ketidakberuntungan, keberhasilan, ketidakberhasilan, kekayaan, dan lain sebagainya, hanyalah sebuah wasilah (sarana), bukan ghayah (tujuan).

Sementara tujuannya adalah kemaslahatan, keadilan, dan kesejahteraan lahir-batin serta puncak tujuan adalah mencari ridla Allah SWT.

Dalam Pandangan KH Abdussalam Shohib, 100 tahun jamiyyah NU adalah momentum untuk menegaskan konsistensi NU pada tugas dan kewajiban ulama sebagai pewaris perjuangan Nabi SAW dengan selalu meneladani para salafussholihin dalam menjaga kedaulatan agama (Islam Aswaja) dan kebangsaan (NKRI).

Semua kondisi itu dihadapi para ulama-kiai dan NU dengan keteguhan sikap, kecerdikan, dan nalar kritis, yang tidak berubah. Hal itu karena kiai pesantren-NU tertempa dan terlatih sebagai ulama pewaris perjuangan dan keteladan Nabi Muhammad SAW.

Tidak ada rasa khawatir, apalagi takut sedikit pun. Tidak terbuai oleh tipu daya, apalagi hanyut terbawa arus, dengan keuntungan pragmatis. Sebaliknya, selalu istiqamah dalam keyakinan atas kebaikan dan kebenaran.

Bagi saya pribadi dan juga umat beragama yang lain, konsistensi dan nalar kritis yang disikapi sebagai karakter-mental dan sikap hidup kaum Nahdliyyin ini telah melahirkan kelegahan dan sikap moral berbangsa.

Bahwa Indonesia sebagai Negara kesatuan dengan keberagaman yang ada di dalamnya adalah final. Bersama NU kita semaikan bersama Kasih Sayang Semesta dalam tubuh Bangsa maupun dunia.

Dirgahayu Nahdatul Ulama dalam Satu Abad Meniti dan Merajut Sejarah !!! Jadilah penenun Kasih sayang semesta dalam Jagat Keberagaman.

Oleh: Yucundianus Lepa
(Advisor pada Kementerian PDT/Ketua DPW PKB Provinsi NTT 2000-2021)

Mau punya Media Online sendiri?
Tapi gak tau cara buatnya?
Humm, tenang , ada Ar Media Kreatif , 
Jasa pembuatan website berita (media online)
Sejak tahun 2018, sudah ratusan Media Online 
yang dibuat tersebar diberbagai daerah seluruh Indonesia.
Info dan Konsultasi - Kontak 
@Website ini adalah klien Ar Media Kreatif disupport 
dan didukung penuh oleh Ar Media Kreatif
banner 728x90